“Kanker rahim” dan “kanker serviks” seringkali membuat bingung banyak orang. Kesalahpahaman ini terlihat sepele, tetapi bisa membuat seseorang salah memahami gejala, risiko, hingga terlambat melakukan deteksi dini. Tidak sedikit wanita yang baru menyadari perbedaannya setelah didiagnosis atau mengalami keluhan tertentu.
Lalu, sebenarnya apa itu kanker serviks? Apakah perbedaan yang mencolok diantara keduanya? Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk mengenali dulu perbedaan antara leher rahim (serviks) dan rahim yang masih sering tertukar hingga saat ini.
Mengenal Perbedaan Leher Rahim (Serviks) dan Rahim
Meski sering dianggap sama, serviks (leher rahim) dan rahim (uterus) adalah dua bagian yang berbeda dalam sistem reproduksi wanita. Rahim merupakan organ yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya janin selama kehamilan. Rahim terdiri dari selaput lendir rahim (endometrium) dan otot rahim (miometrium). Kedua jaringan tersebut dapat berkembang tidak terkendali menjadi kanker yang berbeda.
Sementara itu, serviks atau leher rahim adalah bagian paling bawah dari rahim yang menghubungkan rahim dengan liang vagina. Serviks berfungsi sebagai jalur keluarnya darah menstruasi sekaligus “pintu masuk” menuju rahim.
Perbedaan letak dan fungsi kedua organ ini membuat gangguan atau penyakit yang terjadi pun dapat memiliki penyebab, gejala, hingga penanganan yang berbeda. Inilah mengapa memahami perbedaan antara serviks dan rahim menjadi penting, terutama agar tidak keliru membedakan antara kanker serviks dan kanker rahim yang masih sering dianggap sama oleh banyak orang.
Bagaimana Kanker Serviks dan Kanker Rahim Bisa Terjadi?
Kanker serviks dan kanker rahim sama-sama menyerang organ reproduksi wanita, tetapi keduanya berkembang pada bagian organ yang berbeda dan dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak sama. Kanker serviks terjadi pada leher rahim (serviks), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Sementara itu, kanker rahim dapat terjadi pada lapisan dalam rahim atau endometrium yang dikenal dengan endometrial carcinoma atau bisa juga terjadi pada lapisan otot rahim yang dikenal dengan leiomyosarcoma. Perbedaan inilah yang membuat penyebab, gejala, hingga cara pencegahannya juga berbeda.
Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), risiko tinggi. Ada sekitar 15 - 18 subtipe HPV risiko tinggi penyebab kanker serviks, terutama subtipe 16 dan subtipe 18 yang dikenal berisiko tinggi memicu kanker. HPV umumnya menular melalui kontak seksual dan tidak menimbulkan gejala atau keluhan di tahap awal. Pada beberapa wanita, infeksi HPV dapat bertahan dalam tubuh dalam waktu lama (menetap) dan menyebabkan perubahan sel secara perlahan hingga berkembang menjadi kanker serviks. Karena prosesnya bertahap dan tidak menimbulkan gejala atau keluhan, sebagian besar kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut. Gejala yang mulai muncul biasanya berupa perdarahan dari vagina saat berhubungan seksual, keputihan berbau, nyeri panggul, atau nyeri saat berhubungan seksual.
Risiko kanker serviks meningkat pada mereka yang mulai aktif seksual di usia terlalu muda, memiliki banyak pasangan seksual, merokok, penggunaan pil kontrasepsi jangka panjang, dan daya tahan tubuh yang lemah. Faktor-faktor tersebut dapat memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi HPV yang menetap dan memicu perubahan sel pada serviks.
Berbeda dengan kanker serviks, kanker rahim (endometrial cancer) lebih sering dipengaruhi oleh faktor hormonal dan pertambahan usia. Risiko kanker rahim dapat meningkat pada wanita dengan obesitas, diabetes, sindrom ovarium polikistik (PCOS), menopause di usia lebih lanjut, atau yang belum pernah melahirkan. Riwayat keluarga dengan kanker rahim, ovarium, maupun kanker usus besar juga dapat meningkatkan risikonya. Gejala yang paling umum adalah perdarahan dari rahim yang tidak normal, terutama setelah menopause, disertai nyeri panggul, perubahan keputihan, atau perut terasa kembung pada kondisi tertentu. Sedangkan leiomyosarcoma lebih jarang kejadiannya dan gejalanya adalah perdarahan rahim, nyeri panggul, dan perut membesar atau teraba adanya benjolan di perut bagian bawah.
Karena itu, penting untuk mengenali perbedaan kanker serviks dan kanker rahim sejak dini. Pemeriksaan skrining rutin seperti pemeriksaan HPV dan sitologi serviks (Papsmear berbasis cairan) sangat penting agar kanker serviks terdeteksi pada tahap seawal mungkin bahkan pada tahap infeksi HPV atau pra-kanker sehingga penanganannya menjadi lebih mudah dan kejadian kanker serviks dapat dicegah. Demikian juga vaksinasi HPV hendaknya dilakukan pada usia muda, serta menjaga pola hidup sehat dapat menjadi langkah penting untuk membantu menurunkan risiko dan meningkatkan peluang deteksi dini kanker.
Kesimpulan
Memahami perbedaan kanker serviks dan kanker rahim menjadi langkah penting agar deteksi dini dan pencegahan dapat dilakukan dengan lebih tepat. Kanker serviks sendiri sebagian besar berkaitan dengan infeksi HPV yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi HPV dan pemeriksaan rutin seperti Pap smear maupun tes HPV DNA. Karena kanker serviks sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal, pemeriksaan berkala sangat penting untuk membantu menemukan perubahan sel sebelum berkembang menjadi kanker. Selain itu, menjaga pola hidup sehat dan mengenali faktor risiko sejak dini juga dapat membantu menurunkan risiko terjadinya kanker pada organ reproduksi wanita.
Sebagai laboratorium diagnostik, KALGen Innolab berkomitmen mendukung upaya pencegahan dan deteksi dini kanker serviks melalui layanan pemeriksaan yang komprehensif, termasuk pemeriksaan HPV DNA untuk membantu mendeteksi infeksi HPV berisiko tinggi dan tes sitologi serviks secara lebih akurat. Dengan dukungan teknologi diagnostik terkini dan tim ahli berpengalaman, KALGen Innolab hadir untuk membantu Anda memahami risiko kesehatan sejak dini dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Referensi
Britannica. (2026, January 23). Cervix. In Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/science/cervix
Cleveland Clinic. (n.d.). Cervix: Anatomy, function, changes & conditions. Retrieved May 8, 2026, from https://my.clevelandclinic.org/health/body/23279-cervix
Gleneagles Hospital. (n.d.). Endometrial cancer FAQs. Retrieved May 8, 2026, from https://www.gleneagles.com.sg/id/health-plus/article/endometrial-cancer-faqs
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Gejala dan penyebab kanker serviks (cervical cancer) yang perlu kita ketahui. Retrieved May 8, 2026, from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4169/gejala-dan-penyebab-kanker-serviks-cervical-cancer-yang-perlu-kita-ketahui
National Cancer Institute. (n.d.). Cervical cancer. Retrieved May 8, 2026, from https://www.cancer.gov/types/cervical?
World Health Organization. (n.d.). Cervical cancer. Retrieved May 8, 2026, from https://www.who.int/health-topics/cervical-cancer